Mantra Sukses ala Mas Bro

Pahami Otak Anda, Anda Akan Temukan Jawabannya!

Ilustrasi (gluteranews)
Ilustrasi (gluteranews)

JAKARTA - Ilmu paling dasar dari Glutera adalah ilmu tentang otak manusia, dan memahami manusia. "Maksudnya, Anda harus memahami dan harus meyakini bahwa otak diciptakan untuk dua hal. Yakni untuk menghindari kesengsaraan dan mencari kenikmatan," ujar Andri Ariestianto, maestro Glutera Indonesia.

Bagaimana porsi pembagian pada otak manusia? Saat memberikan materi pada Basic Training, Andri mengatakan 80 persen otak kita diciptakan untuk menghindari kesengsaraan. Sementaraitu, 20 persen lainnya untuk mencari kenikmatan.

"Ini sudah rumus pasti. Paten, tidak bisa diubah sama sekali! Dan jangan berusaha merubahnya, hidup Anda akan terjungkal, terkapar!" tegas Andri.

Kenapa begitu? Menurut Andri hal ini sangat sederhana. Misalkan Anda sedang duduk, dan tahu-tahu di bawah kursi ada ular cobra, apa reaksi Anda? Pasti loncat menghindari ular tersebut, kalau perlu teriak-teriak.

Mengapa bisa seperti itu? Karena keyakinan kita bahwa ular itu binatang bahaya. Dan otak kita mengindari sengsara. "Jelas kan. Masuk akal kan?" ujarnya.

Andri juga memberikan penjelasan lain. "Misalkan, saat Anda duduk dan tahu-tahu di bawah kursi ada duit segepok 100 juta! Apa reaksi Anda?"

"Pasti tangan Anda meraih duit tersebut dan bertanya ini duitnya siapa ya? Karena Anda merasa bukan yang punya duit. Kenapa  Karena keyakinan kita kalau ada duit itu enak dan nikmat. Maka kita meraihnya. Masuk Akal?" jelasnya.

Nah, sekarang coba kita lawan rumus otak tersebut. Kita raih ular cobranya dan kita loncat menjauh dari uangnya. Apa yang terjadi ? Sengsaraaaaaa beib...... !!!
Masuk akal ?

Contoh 1 :
Simple, produk terbaik Glutera sudah didesign sedemikian rupa untuk memberikan kenikmatan bagi yang memakainya. Membernya di Training supaya jadi orang yang bisa memberikan kenikmatan pada orang lain.

Jadi, Produk Nilainya 100, Member Nilainya 100. Setuju khan. Nah, saat member ini ketemu calon konsumen, kalau paham fungsi otak pasti akan memberikaan kenikmatan pada calon konsumen. Tapi karena lupa, dia malah memberikan kesengsaran pada calon konsumen.

Contohnya: Tidak senyum, tidak memuji, eh, malah ngata-ngatain kamu jelek kamu jelek. Apa yang terjadi. Calon konsumen tersebut tidak membeli, malah mengusir Anda.
Jadi kalau pelajaran, produk 100 nilainya, member berkurang jauh. Tidak senyum berkurang 10, tidak memuji berkurang 10, ngomong jelak berkurang 10. Akhirnya tinggal 70. Apakah lulus? Jelas tidak. Karena nilainya dibawah 100.

Kenapa bisa seperti itu? "Ya, karena Anda tidak memberi kenikmatan (senyum dan puji), tapi malah memberikan kesengsaraan (ngomong jelek), ya secara otomatis otak dia bereaksi untuk menghindari," ujarnya.

Contoh 2 :
Coba Anda pikirkan. Group Anda hanya Anda minta untuk bergerak, bergerak, tapi Anda tidak memberikan kenikmatan pada group. Lho, apa kenikmatannya? Kenikmatannya adalah memberikan presentasi pada groupnya, memberikan training pada groupnya. 

"Melatih yang tidak bisa menjadi bisa, dari tidak bisa presentasi menjadi bisa presentasi. Itu tandnaya Anda memberikan kenikmatan (ilmu positif). Semakin banyak memberikan kenikmatan pada group, semakin besar pula kenikmatan yang Anda rasakan," katanya.

Saat otak diam, berarti tidak bekerja fungsinya. Artinya, kalau kita diam, otak kita mati. Tapi kalau kita gerak dan gerak memberikan kenikmatan, otak akan bekerja secara maksimal. 
Jika otak bekerja, otak kenikmatan akhirnya menjadi kaya akan fungsinya, dan yang punya otak tersebut menjadi orang kaya!

Contoh 3 :
Coba bayangkan, para sundel bolong sedang berkumpul atau bidadari sedang berkumpul. Kira-kira kumpulan mana yang mengerikan? Kumpulan mana yang nikmat? 

Ini Rumusnya:
Sundel Bolong : Bidadari = Ngeriii...!!
Sundel Bolong : Sundel Bolong = Ngeriii bingit..!!
Bidadari : Bidadari = Indah dan nikmat sekali dunia ini..... oh.... yes.....

Mana Bidadariku ya.... mana.... ?
Bidadariiiii.... Bidadariii...... mana ya.... ? (*)

Rochmat Shobirin
Rochmat Shobirin
Jurnalis di media online TIMES Indonesia sejak 2014 I Twitter: @timesindonesia I Email: redaksi@timesindonesia.co.id

Komentar Anda

Redaksi: redaksi[at]inatimes.co.id

Informasi pemasangan iklan
hubungi : marketing[at]inatimes.co.id | glutera[at]inatimes.co.id